Sobat-in, kalian pasti pernah dengar atau bahkan punya kerabat yang divonis diabetes secara tiba-tiba, padahal sebelumnya tidak merasa ada gejala apapun. Itulah yang membuat diabetes sering disebut sebagai “silent killer” atau pembunuh diam-diam.
Faktanya, berdasarkan data IDF Diabetes Atlas Edisi 11 tahun 2025, Indonesia menempati peringkat kelima secara global dalam jumlah orang dewasa usia 20-79 tahun yang hidup dengan diabetes, dengan estimasi 20,4 juta jiwa. Yang lebih mengkhawatirkan, Indonesia masuk dalam tiga negara dengan jumlah kasus diabetes tidak terdiagnosis terbanyak di dunia, bersama China dan India, yang menyumbang 50,5% dari total kasus undiagnosed di seluruh dunia.
Artinya jutaan orang Indonesia kemungkinan sudah mengidap diabetes tapi belum tahu. Padahal deteksi dini adalah kunci untuk mencegah komplikasi serius seperti stroke, gagal ginjal, sampai amputasi.
Di tengah situasi ini, Huawei baru saja meluncurkan smartwatch dengan klaim menarik. Huawei Watch Fit 5 Pro hadir dengan fitur yang disebut Diabetes Risk Study, yang katanya bisa membantu menilai risiko diabetes tanpa perlu jarum suntik. Apakah ini revolusi kesehatan digital atau cuma gimmick marketing? Mari saya bahas faktanya.
Apa Itu Fitur Diabetes Risk Study di Huawei Watch Fit 5 Pro?
Sobat-in perlu paham dulu, Diabetes Risk Study bukanlah alat untuk mengukur kadar gula darah secara real-time seperti glucometer atau Continuous Glucose Monitor (CGM). Fitur ini adalah alat skrining awal atau early screening tool yang membantu mengidentifikasi pola yang berpotensi mengindikasikan risiko diabetes.
Cara kerjanya begini. Sensor optik di belakang jam menggunakan teknologi photoplethysmography atau PPG. Teknologi ini melacak perubahan aliran darah di pembuluh-pembuluh kecil di sekitar pergelangan tangan dan membaca sinyal biologis dari sirkulasi darah, tanpa perlu mengambil sampel darah.
Yang menarik, data tidak diambil dari satu momen saja. Huawei merancang fitur ini untuk memantau aktivitas denyut nadi secara kontinu selama 3 sampai 14 hari, dengan tracking berjalan siang dan malam, sehingga pola yang dihasilkan lebih konsisten.
Setelah periode pemantauan tersebut, data digabungkan dengan profil pengguna seperti usia, jenis kelamin, tinggi, dan berat badan, kemudian hasilnya dikelompokkan ke dalam tiga kategori, risiko rendah, sedang, atau tinggi.
Bagaimana Akurasi Klaim Huawei?
Lalu, seberapa akurat sih fitur ini?
Huawei sendiri tidak mengklaim Watch Fit 5 Pro bisa menggantikan tes medis. Mereka memposisikan fitur ini sebagai bagian dari pergeseran wearable ke arah preventive health. Daripada menggantikan tes medis, sistem ini dimaksudkan untuk mengubah sinyal yang dikumpulkan di pergelangan tangan menjadi indikator peringatan dini yang lebih mudah dibaca pengguna.
Huawei menyatakan fitur ini dikembangkan bersama beberapa institusi dan rumah sakit di China dan Dubai untuk mendukung akurasi dan validitas sistem. Untuk wilayah Eropa, beberapa fitur kesehatan lain di Watch Fit 5 Pro seperti pulse wave arrhythmia detection sudah mendapat sertifikasi CE (Conformité Européenne) dan di Malaysia mendapat sertifikasi MDA (Medical Device Authority).
Tapi yang perlu Sobat-in catat, sertifikasi medis spesifik untuk fitur Diabetes Risk Study sendiri masih belum sejelas itu dipublikasikan secara internasional. Jadi gunakan fitur ini sebagai alat bantu indikator awal, bukan sebagai dasar diagnosis.
Mengapa Fitur Ini Relevan untuk Sobat-in di Indonesia?
Dengan posisi Indonesia sebagai salah satu negara dengan kasus diabetes tidak terdiagnosis terbanyak di dunia, fitur seperti Diabetes Risk Study sebenarnya sangat relevan untuk konteks kita.
Beberapa alasan kenapa fitur ini punya nilai praktis:
Pertama, banyak orang Indonesia itu malas untuk melakukan Medichal Ceckup, apa lagi untuk cek darah ke laboratorium kecuali sudah ada keluhan berat. Padahal diabetes di tahap awal jarang menunjukkan gejala yang spesifik.
Kedua, biaya pemeriksaan rutin HbA1c dan gula darah puasa di laboratorium bisa terasa membebani kalau dilakukan rutin. Smartwatch dengan fitur skrining bisa jadi “early warning” yang mendorong Sobat-in untuk akhirnya melakukan tes medis ketika indikatornya menunjukkan risiko tinggi.
Ketiga, monitoring 24/7 selama berhari-hari memberikan data yang lebih komprehensif dibanding tes sesekali di laboratorium. Pola aliran darah yang berubah seiring waktu bisa mengindikasikan masalah metabolisme yang belum terlihat di tes satu titik waktu.
Fitur Kesehatan Lain di Huawei Watch Fit 5 Pro
Selain Diabetes Risk Study, ada beberapa fitur kesehatan lain yang menarik di smartwatch ini:
ECG (Elektrokardiogram) untuk memantau aktivitas jantung dan mendeteksi tanda-tanda atrial fibrillation. Ini fitur yang biasanya hanya ada di smartwatch flagship seharga belasan juta.
Pulse Wave Arrhythmia Analysis untuk analisis pola denyut nadi yang mendeteksi kemungkinan aritmia. Fitur ini sudah mendapat sertifikasi CE di Eropa.
TruSleep 5.0 untuk pemantauan kualitas tidur. Fitur ini bahkan bisa mendeteksi power nap 20 menit dengan akurat dan menganalisis tahapan tidur, termasuk identifikasi risiko sleep apnea.
HRV (Heart Rate Variability) untuk mengukur stres dan kemampuan recovery tubuh.
Emotional well-being tracking yang memantau kondisi emosional berdasarkan data fisiologis.
Spesifikasi Singkat Huawei Watch Fit 5 Pro
| Fitur | Spesifikasi |
|---|---|
| Layar | AMOLED 1,92 inci, kecerahan hingga 3.000 nits |
| Material Case | Titanium grade aerospace dengan kaca sapphire |
| Baterai | Hingga 10 hari pemakaian ringan, 7 hari pemakaian normal |
| Konektivitas | Kompatibel dengan iOS dan Android via Huawei Health App |
| Storage | 64GB built-in |
| Berat | 30,4 gram |
| Ketahanan | Free diving hingga kedalaman 40 meter |
| Harga di Indonesia | Mulai Rp 3.699.000 (periode sale 21 Mei – 20 Juni 2026) |
Untuk pengguna outdoor, ada bonus menarik nih, akses peta golf dengan lebih dari 17.000 lapangan di seluruh dunia, dan mode untuk trail running, hiking, serta free diving.
Yang Perlu Sobat-in Pahami Sebelum Beli
Saya harus jujur dari sudut pandang yang objektif, ada beberapa hal yang wajib Sobat-in tahu sebelum membeli smartwatch ini hanya karena fitur deteksi risiko diabetesnya:
1. Bukan Pengganti Diagnosis Dokter
Hasil low, medium, high risk dari Huawei Watch Fit 5 Pro adalah indikator skrining, bukan diagnosis medis. Standar emas untuk diagnosis diabetes tetap pemeriksaan HbA1c dan gula darah puasa yang dilakukan di laboratorium kesehatan.
Kalau hasil di smartwatch menunjukkan high risk, jangan panik tapi juga jangan abaikan. Segera konsultasikan dengan dokter dan lakukan pemeriksaan medis untuk konfirmasi.
2. Butuh Konsistensi Pemakaian
Fitur ini hanya bekerja kalau Sobat-in pakai smartwatch 24/7 selama minimal 3-14 hari. Kalau cuma dipakai sesekali atau dilepas saat tidur, hasilnya tidak akan akurat.
3. Sensor PPG Punya Keterbatasan
Akurasi sensor PPG dipengaruhi banyak faktor, seperti ketatnya strap di pergelangan, warna kulit, tato di area sensor, sampai gerakan saat pengukuran. Untuk Sobat-in dengan kondisi kulit tertentu, hasilnya mungkin kurang konsisten.
4. Fitur Premium di Aplikasi Huawei Health
Diabetes Risk Study termasuk fitur yang aksesnya melalui Huawei Health App, dan pemicunya muncul di jam setelah pemakaian kontinu beberapa hari. Pastikan kalian nyaman menggunakan ekosistem Huawei Health.
Tips Memaksimalkan Manfaat Fitur Skrining Diabetes
Kalau Sobat-in sudah memutuskan untuk beli Huawei Watch Fit 5 Pro, atau punya smartwatch lain dengan fitur kesehatan serupa, ada beberapa tips supaya manfaatnya optimal:
1. Pakai konsisten minimal 14 hari berturut-turut untuk hasil pertama. Jangan dilepas saat tidur karena pola di malam hari justru penting.
2. Lengkapi profil kesehatan di Huawei Health App dengan akurat. Usia, gender, tinggi, berat, dan history kesehatan akan memengaruhi akurasi analisis.
3. Imbangi dengan pemeriksaan medis berkala. Idealnya cek HbA1c setahun sekali untuk usia di atas 35 tahun, atau lebih sering kalau ada faktor risiko (obesitas, riwayat keluarga diabetes, hipertensi).
4. Pelajari faktor risiko diabetes Sobat-in. Smartwatch hanya bagian dari puzzle. Kombinasikan dengan pola makan sehat, olahraga rutin, dan manajemen stres.
5. Jangan abaikan hasilnya kalau muncul medium atau high risk. Jadwalkan kunjungan ke dokter untuk konfirmasi.
So, Worth It atau Tidak?
Sobat-in, Huawei Watch Fit 5 Pro dengan fitur Diabetes Risk Study adalah salah satu inovasi yang menarik di dunia wearable health 2026. Dengan harga Rp3 Jutaan di periode launch, smartwatch ini menawarkan fitur yang bahkan beberapa tahun lalu masih eksklusif di jam tangan medis bersertifikasi seharga puluhan juta.
Tapi sekali lagi, kalian harus paham bahwa ini adalah alat bantu skrining, bukan alat diagnosis. Manfaat terbesarnya adalah sebagai pendorong untuk Sobat-in akhirnya melakukan pemeriksaan medis kalau indikatornya menunjukkan risiko.
Dengan kondisi Indonesia yang menjadi salah satu negara dengan kasus diabetes tidak terdiagnosis terbanyak di dunia, alat semacam ini bisa jadi bagian dari solusi.
Saran saya, kalau Sobat-in atau anggota keluarga punya faktor risiko diabetes seperti usia di atas 40 tahun, ada riwayat keluarga diabetes, berat badan berlebih, atau pola hidup sedentary, smartwatch ini bisa jadi investasi kesehatan yang masuk akal.
Tapi jangan jadikan ini satu-satunya tools, tetap rutin cek ke dokter dan jaga gaya hidup sehat.
Disclaimer
Artikel ini disusun untuk tujuan edukasi berdasarkan data publik dari Huawei dan International Diabetes Federation (IDF). Informasi di artikel ini bukan saran medis.
Huawei Watch Fit 5 Pro dan fitur Diabetes Risk Study adalah alat skrining awal yang tidak menggantikan pemeriksaan medis profesional.
Untuk diagnosis dan penanganan diabetes, selalu konsultasikan dengan dokter dan lakukan pemeriksaan medis di fasilitas kesehatan resmi.






